Strategi dan Fungsi Ketidaksantunan Berbahasa Netizen dalam Kolom Komentar TikTok @Willie Salim: Kajian Pragmatik
DOI:
https://doi.org/10.37630/jpb.v16i2.4696Keywords:
Ketidaksantunan Berbahasa, Pragmatik, Willie Salim, TikTok, NetizenAbstract
TikTok merupakan media sosial yang berfungsi tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang interaksi digital yang membentuk berbagai praktik komunikasi pengguna. Akun @WillieSalim, yang dikenal karena berbagi konten dan tantangan belanja, sering memicu berbagai reaksi dari pengguna internet, termasuk komentar kasar dalam bahasa mereka. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi bahasa tidak sopan yang digunakan oleh pengguna internet di bagian komentar akun TikTok @WillieSalim dan untuk menjelaskan alasan atau motif di balik penggunaan ketidaksopanan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatis, khususnya menerapkan teori ketidaksopanan Culpeper dari tahun 1996 dan 2011. Data terdiri dari kata, frasa, atau kalimat yang menunjukkan kurangnya kesopanan, yang diambil dari bagian komentar video paling populer dari tahun 2025 hingga 2026. Temuan penelitian mengungkapkan lima strategi ketidaksopanan: ketidaksopanan langsung (disebut sebagai ketidaksopanan), ketidaksopanan sopan positif, ketidaksopanan sopan negatif, sarkasme atau ejekan kesopanan, dan menahan kesopanan. Strategi dari penggunaan sarkasme dan kekasaran positif telah menjadi pendekatan yang paling umum, didorong oleh alasan seperti refleksi sosial, keraguan tentang keaslian konten, dan pelepasan emosi.
References
Annisa, N., Hartati, S., & Martha, A. S. (2022). Penggunaan sarkasme sebagai bentuk ekspresi netizen di media sosial. Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya), 10(2), 143–154. https://doi.org/10.29210/120221143
Culpeper, J. (2011). Impoliteness: Using language to cause offence. Cambridge University Press.
Damayanti, R., & Rahardi, R. K. (2025). Strategi ketidaksantunan positif dan sarkasme generasi muda di media sosial Instagram. Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 11(1), 88–102. https://doi.org/10.22219/kembara.v11i1.31245
Fadlilah, N., Hidayat, R., & Mulyadi, M. (2022). Degradasi moral dalam komunikasi digital: Analisis ketidaksantunan berbahasa di media sosial. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Metalingua, 7(2), 115–126. https://doi.org/10.21107/metalingua.v7i2.14562
Fahmi, I. (2022). Schadenfreude digital: Representasi emosi tertawa atas kemalangan orang lain di platform virtual. Jurnal Psikologi Sosial Digital, 4(2), 73–85. https://doi.org/10.24854/jpsd.v4i2.342
Gunawan, W. (2021). Konstruksi bahasa virtual: Pergeseran norma konvensional dalam ruang komunikasi siber. Aksara: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 22(1), 34–46. https://doi.org/10.37081/aksara.v22i1.2345
Halifah, N., Syamsuri, S., & Wahid, A. (2023). Normalisasi sarkasme dalam kolom komentar TikTok sebagai bagian budaya komunikasi digital. Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya), 11(2), 201–214. https://doi.org/10.24114/genre.v11i2.45112
Haqi, M. F., Lestari, P., & Ramadhan, S. (2025). Karakteristik media berbasis video pendek dan intensitas interaksi fitur komentar TikTok. Jurnal Komunikasi Digital, 6(1), 12–25. https://doi.org/10.31294/jkd.v6i1.21455
Hardaker, C. (2010). Trolling in asynchronous computer-mediated communication: From user discussions to academic definitions. Journal of Politeness Research, 6(2), 215–242. https://doi.org/10.1515/jplr.2010.011
Hidayah, N., & others. (2023). Konstruksi sosial tentang keikhlasan dalam kegiatan gotong royong. Jurnal Sosiologi Agama, 11(3), 190–204. https://doi.org/10.14421/jsa.v11i3.3321
Kurniawan, D., & Rahayu, S. (2022). Prinsip ekonomi bahasa dan reduksi fonologis dalam interaksi ranah digital. Bahasa Dan Sastra, 33(3), 245–257. https://doi.org/10.24036/bst.v33i3.11674
Leech, G. (2014). The pragmatics of politeness. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780195341386.001.0001
Mahardika, A. (2023). Hilangnya konteks fisik dan pengaruh jarak psikologis terhadap intensitas ketidaksantunan siber. Jurnal Sosiohumaniora, 9(3), 310–322. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v9i3.43211
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Analisis Data Kualitatif. Universitas Indonesia Press.
Musdolifah, A., Purwanto, E., & Rahmawati, F. (2024). Analisis strategi ketidaksantunan berbahasa netizen dalam kolom komentar akun TikTok. Lingua: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 20(1), 56–69. https://doi.org/10.30957/lingua.v20i1.789
Pradopo, S. (2021). Aspek tipografi dan penanda prosodi teks tertulis dalam komunikasi virtual. Dialektika: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 8(2), 134–147. https://doi.org/10.24036/dialektika.v8i2.4321
Pratama, K. Y. (2024). Subkultur kebebasan berekspresi dan keberanian bersuara di ruang publik digital. Jurnal Analisis Sosial, 29(1), 41–55. https://doi.org/10.33474/jas.v29i1.1984
Putri, A. R., Utami, L., & Wijaya, K. (2023). Rekonstruksi morfologis bahasa gaul dan penyerapan istilah asing oleh netizen Indonesia. Jurnal Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 12(2), 178–192. https://doi.org/10.26499/rnh.v12i2.4561
Rahardi, R. K. (2016). Pragmatik: Fenomena ketidaksantunan berbahasa. Erlangga.
Rahmah, S., & Raharjo, T. (2025). Komentar sarkastik di TikTok sebagai respons terhadap ketimpangan sosial dan ekonomi. Jurnal Sosiologi Kontemporer, 13(2), 145–159. https://doi.org/10.22146/jks.v13i2.8124
Ramadhan, M. F., & Utami, P. (2022). Pelanggaran maksim kebijaksanaan dan maksim penerimaan Leech pada kolom komentar platform digital. Stilistika: Jurnal Bahasa Dan Seni, 11(1), 23–36. https://doi.org/10.31294/stilistika.v11i1.1245
Sari, R., & Azis, Z. (2020). Pragmalinguistik siber dalam interaksi berbasis media sosial. Jurnal Bahasa Dan Sastra Indonesia, 5(2), 110–123. https://doi.org/10.31849/jbsi.v5i2.4115
Setyowati, R., Wardani, K., & Nugroho, A. (2022). Digital emotional contagion dan perundungan siber terselubung dalam bentuk lelucon. Jurnal Psikologi Cyber, 10(1), 67–81. https://doi.org/10.24854/jpc.v10i1.1143
Wibowo, A., & Hasanah, U. (2023). Reduksi esensi tenggang rasa berbahasa pada kebudayaan komunikasi digital di Indonesia. Jurnal Kebudayaan Dan Bahasa, 5(2), 101–114. https://doi.org/10.34010/jkb.v5(2).8765
Wijana, I. D. P. (2022). Skeptisisme netizen terhadap autentisitas narasi filantropi digital: Kajian sosiopragmatik. Jurnal Praba, 4(1), 15–28. https://doi.org/10.22146/praba.v4i1.5432
Yuka, M., & Handayani, T. (2025). Kecemburuan sosial dan fungsi katarsis emosional netizen pada konten pembagian donasi digital. Jurnal Empati, 14(2), 190–204. https://doi.org/10.14710/empati.v14i2.45631
Yule, G. (2018). Pragmatics (2nd ed.). Oxford University Press.
Yus, F. (2011). Cyberpragmatics: Internet-mediated communication in context. John Benjamins Publishing Company. https://doi.org/10.1075/pbns.213
Yusuf, M., & Maryani, E. (2021). Pergeseran nilai kesantunan tradisional (tepa salira) dalam transformasi teks digital. Jurnal Sosiolinguistik Indonesia, 3(1), 49–62. https://doi.org/10.24256/jsi.v3i1.2143
Zamzani, Z., Rahayu, T., & Ashadi, A. (2021). Ketidaksantunan positif dalam perspektif sosiolinguistik dan budaya masyarakat tutur Indonesia. Litera, 20(2), 284–299. https://doi.org/10.21831/ltr.v20i2.41235
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Novia Lathifani Zharfan, Meris Gusmahvida, Agus Lukmanul Khakim

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
- Seluruh materi yang terdapat dalam situs ini dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi situs web ini untuk keperluan komersil tanpa persetujuan dewan penyunting jurnal ini.
- Apabila anda menemukan satu atau beberapa artikel yang terdapat dalam Jurnal Pendidikan Bahasa yang melanggar atau berpotensi melanggar hak cipta yang anda miliki, silahkan laporkan kepada kami, melalui email pada Principle Contact.
- Aspek legal formal terhadap akses setiap informasi dan artikel yang tercantum dalam situs jurnal ini mengacu pada ketentuan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0).
- Semua Informasi yang terdapat di Jurnal Pendidikan Bahasa bersifat akademik. Jurnal Pendidikan Bahasa tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang terjadi karana penyalah gunaan informasi dari situs ini.








